PERSAHABATAN DI TENGAH JALAN HIDUP YANG BERBEDA

Di sebuah desa kecil di pesisir pantai, Sabar dan Dimas tumbuh sebagai sahabat sejak kanak-kanak. Mereka sering menghabiskan waktu di bawah pohon rambutan tua belakang rumah sambil bertukar mimpi. Sabar, yang dikenal ambisius dan berorientasi pada prestasi yang dimiliki, membayangkan dirinya menjadi insinyur yang mampu membangun infrastruktur besar. Sebaliknya, Dimas yang penuh kreativitas bercita-cita menjadi seniman yang karya-karyanya dapat menginspirasi banyak orang.

Masa remaja mereka penuh dengan kegiatan sederhana namun bermakna. Seperti menjelajah laut tepi pantai dengan perahu kecil, bermain bola di lapangan desa, menelusuri gang-gang kecil di desa, hingga berbagi cerita menjelang tidur.

Pada suatu malam, Dimas mengungkapkan kekhawatirannya kepada Sabar, “Sabar, apa kau yakin kita akan selalu bersama? Aku takut kalau nanti kita pisah jalan dan jarang berkomunikasi.”

Sabar tersenyum dan menanggapinya dengan optimis, “Tentu saja, Dimas! Kita sahabat selamanya. Aku akan bangun jembatan yang panjang untukmu agar kau bisa melukis dunia kita nantinya.”

Dimas menanggapinya dengan tawa bahagia.

“Semoga, mimpi kita menjadi kenyataan, ya, Sabar,” ungkap Dimas dengan harapan besar.

Waktu-waktu pun berlalu. Arah hidup mereka mulai berbeda. Setelah lulus SMA, Sabar melanjutkan studi teknik sipil di kota besar dan meraih berbagai pencapaian hingga akhirnya bisa mendirikan perusahaan konstruksi yang sukses. Proyek-proyeknya, mulai dari gedung tinggi hingga jalan tol yang melintasi berbagai kota, menjadikannya dikenal luas. Sementara itu, Dimas tetap tinggal di desa dan fokus pada seni lukis. Karyanya berkembang secara konsisten sampai akhirnya menembus panggung internasional, termasuk pameran di Paris dan New York.

Kesibukan profesional membuat keduanya semakin jarang berkomunikasi. Hubungan mereka menyempit menjadi pesan singkat di media sosial entah WhastApp, Instagram, maupun E-mail.

Suatu hari, Sabar mengirim pesan kepada Dimas, “Kita mau ketemunya kapan, Bro? Sudah lama kita tidak bertemu.”

Namun, balasan Dimas seolah memupus harapan Sabar untuk bertemu.

“Sibuk banget, Bro. Karya baru lagi deadline. Kau gimana? Masih bangun jembatan?”

Seiring berjalannya waktu pertemuan mereka akhirnya terjadi ketika Sabar pulang untuk menghadiri acara amal di desa. Di bawah pohon rambutan yang sama, ia bertemu kembali dengan Dimas yang sedang mempersiapkan pameran lokal yang rutin diadakan setiap tahun. Mereka berbincang sambil mengenang masa lalu yang memiliki banyak kenangan. 

“Kau berhasil ya, Sabar. Jembatanmu menghubungkan dunia persis seperti apa yang kau bayangkan dulu,” ujar Dimas sembari tersenyum bahagia.

“Lukisanmu juga menerangi jiwa orang setiap kali memandangnya. Aku bangga padamu, Bro. Tapi, kenapa kita jadi jarang ketemu, ya? Dan komunikasi kita juga sebatas pesan-pesan singkat. Tidak seperti masa kita kecil dulu,” jawab Sabar dengan ungkapan kerinduannya akan masa-masa dengan sahabatnya.

Dimas berujar pelan, “Masa depan kita terlalu cerah, Sabar. Kau sibuk dengan bisnismu, sedangkan aku sibuk dengan karya-karyaku. Kita seperti dua bintang yang terpisah langit.”

Sabar mengakui hal itu, namun ia menegaskan bahwa kedekatan mereka tidak hilang dan tidak akan luntur begitu saja. Mereka kemudian sepakat untuk saling menjaga komunikasi meskipun hidup membawa mereka ke arah yang berbeda. 

“Janji, ya? Kita telepon setiap bulan,” kata Dimas.

“Iya, janji!” balas Sabar, yang tiba-tiba saja langsung merangkul sahabatnya, Dimas.

Akhirnya, kedua sejoli itu menjalani kehidupan masing-masing, namun tetap menyimpan keyakinan bahwa persahabatan sejati bukan sekadar soal kebersamaan fisik, melainkan tentang tetap menerangi satu sama lain ketika jarak dan waktu menguji hubungan itu.

Rio Febriansyah adalah seorang mahasantri semester 6 Ma’had Aly Kebon Jambu.

1 komentar untuk “PERSAHABATAN DI TENGAH JALAN HIDUP YANG BERBEDA”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top