Senin, 29 Desember 2025, Ma’had Aly Kebon Jambu mengadakan event bedah buku berjudul Troketon, Sampah Masa Lalu, Kini, dan Nanti bertempat di aula Ma’had Aly Kebon Jambu. Ini merupakan buku yang ditulis kolektif oleh salah tiga dari penulisnya adalah mahasantri Ma’had Aly Kebon Jambu saat melakukan kegiatan Studi Praksis Sosial (SPS) di wilayah Pedan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Ketiga mahasantri itu adalah Dedi Setiwan, Irvaz Pria Aguspi, dan M. Farhan Jidan.
Troketon merupakan nama dari sebuah Tempat Pembuangan Akhir atau TPA dengan tumpukan sampah yang menggunung sehingga menyebabkan pencemaran di mana-mana, antaranya pencemaran udara dan air. “Hari kedua di sana kami baru menyadari bau tidak sedap itu dibawa oleh angin yang berhembus ke arah tempat kami tinggal, dan bau tidak sedap seperi itulah yang setiap waktu dirasakan oleh warga” Ucap Farhan Jidan dalam presentasinya.
TPA Troketon didirikan pada tahun 2016 oleh pemerintah yang tujuan awalnya adalah untuk dijadikan tempat pemrosesan sampah akhir, di mana sampah dipilah dan dikelola agar lebih ramah lingkungan. Namun faktanya, proses tersebut hampir nihil di sana. Setiap harinya sampah-sampah dari seluruh penjuru Klaten, bahkan juga dari luar Klaten hanya ditumpuk dan dibiarkan begitu saja. Dalam satu hari, lebih dari 100 ton sampah masuk ke TPA tersebut, dan kurang dari 1 tahun, keniscayaan adanya gunungan sampah pun tidak bisa dihindari.
Selain itu, pencemaran air menjadi salah satu bencana yang paling merugikan warga. Adanya TPA Troketon membuat mereka kesulitan dalam mengakses air bersih. Air sungai yang semula jernih, kini tidak bisa mereka andalkan. Alhasil, untuk mendapatkan air bersih, mereka harus menggali sumur hingga kedalaman sekitar 20 meter. “Hari ini bahkan tanggul kolam air lindi jebol hingga mencemari air sumur warga” Ucap Kak Tantya, salah satu aktivis FAMM. Air lindi merupakan air hujan yang diserap oleh sampah lalu mengalir dan ditampung dalam sebuah kolam besar. Jika dikelola, air lindi ini sebetulnya bisa difungsikan sebagai pupuk tanaman. Namun untuk mengelolanya membutuhkan alat dan biaya yang sangat mahal.
Daur Resik bersama Forum Aktivis Perempuan Muda (FAMM) Indonesia mengadvokasi keresahan ini. Mereka menginisiasi penulisan buku Trokeron secara kolektif dan melibatkan mahasantri Ma’had Aly Kebon Jambu untuk ikut melakukan riset di TPA Troketon. FAMM merupakan salah satu NGO yang menjadi mitra dalam kegiatan yang mendukung Tridharma Ma’had Aly Kebon Jambu salah satunya kuliah SPS. FAMM mengatakan sejak buku ini diluncurkan dan didiskusikan bersama warga sekitar Klaten, pemerintah mulai merespon dan bergerak untuk meninjau TPA Troketon. “Bupati sampai gak bisa tidur gara-gara buku ini” Ucap salah satu dari mereka.
Fenomena seperti TPA Troketon tentu bukanlah satu-satunya. Di banyak titik di Indonesia pasti ada sudut yang menjadi tempat pembuangan akhir yang jika tidak ditangani dan dikelola akan merugikan warga sekitar. Pemerintah sudah semestinya bertanggungjawab atas fenomena ini. Namun keberadaan TPA ini sering kali tidak terlihat, atau bahkan terlihat namun tidak banyak yang peduli. Maka pemerintah dan masyarakat sudah seharusnya bekerjasama untuk menanggulali sampah yang semakin hari tentu semakin bertambah, salah satunya dengan meminimalisir produksi sampah plastik.





