Nadia tidak suka rasa pahit. Sampai umur dua puluh tahun, dia selalu meminta ekstra gula di setiap minumannya, dan selalu memilih coklat susu di antara deretan rasa es krim. Rasa pahit itu sendiri seperti pengingat bagi Nadia, bahwa hidup tidak selalu manis. Dan Nadia sejujurnya agak malas diingatkan.
Sore itu, senja di Kafe Teras Wangi agak berbeda, mungkin karena hujan baru saja berhenti, menyisakan bau tanah basah dan asap yang menguap.
Nadia duduk di sudut menunggu teman kecilnya, Alva. Seharusnya Alva sudah datang sepuluh menit yang lalu, tetapi hanya bangku kosong di depannya yang setia menatap kosong.
“Mau pesan apa, Kak? “tanya pelayan kafe yang ramah. Memberikan buku menu dengan sopan.
“Kopi hitam aja satu, tanpa gula,” jawab Nadia, entah kenapa, kata-kata itu yang keluar dari mulutnya. Dia menyesalinya. Kopi hitam? Apa-apaan?
Tak lama kemudian, secangkir kopi hitam mengepul mendarat di mejanya. Aromanya kuat, pekat dan sedikit mengintimidasi. Nadia mengambil sendok kecil lalu mengaduknya perlahan, seolah mencoba melarutkan kepahitan sebelum ia mencicipinya.
Gerakannya terhenti saat ponselnya berdering menandakan ada pesan masuk. Ternyata dari Alva, “Maaf banget Nad, mobil aku mogok. Sepertinya aku bakal telat banget. Kamu tunggu aja dulu, ya.”
Nadia tersenyum kecut. Sudah sering seperti ini. Alva memang orang yang menyenangkan, tapi selalu saja ada drama kecil yang membuatnya telat atau membatalkan pertemuan. Nadia merasa seperti selalu menunggu kereta yang jadwalnya tidak pasti. Ia menarik nafas panjang, menatap pantulan lampu kafe di permukaan kopi, lalu dengan nekat ia menyeruput kopinya.
“Ugh, pahit,” mata Nadia menyipit mengekspresikan rasa pahit yang asing di mulutnya, ”Pahit banget.”
Tapi anehnya setelah gelombang pahit itu berlalu, ada rasa lain yang tertinggal: rasa hangat, sedikit hambar, dan sekelebat aroma kacang yang lembut. Itu bukan rasa manis yang ia cari, tapi itu adalah rasa yang jujur. Rasa yang tidak menyembunyikan apapun. Rasa yang alami dari dirinya sendiri.
Nadia meletakkan cangkirnya kemudian melihat ke luar jendela. Senja di balik kaca tampak seperti lukisan yang baru dicuci warnanya sehingga terlihat lebih pekat dan garisnya menjadi lebih jelas.
Di kejauhan, sepasang kakek nenek berjalan melewati kafe itu sambil berpegangan tangan. Seorang anak kecil melompat-lompat di genangan air, dan seorang musisi jalanan mulai memetik gitarnya. Di tengah suasana itu, Nadia merasa nyaman. Bukan karena, semisal, ada Alva di depannya atau karena rasa kopi itu manis, tetapi karena dia sedang menikmati momen yang tulus. Seperti, di antara momen pahit namun hangat, atau seperti realitas yang tidak perlu dihiasi dengan banyak gula.
Diam-diam dia mengabadikan momen itu.
Alva mungkin akan datang, mungkin juga tidak tapi itu bukan lagi hal yang penting. Yang terpenting adalah soal dirinya yang tengah duduk di sana sambil ditemani rasa pahit, ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan. Pancaran senja yang menemaninya dengan sabar pun, cukup membuatnya merasa bahasia. Ia tersenyum, menyeruput kopinya lagi. Kali ini lebih santai. Sambil menikmati hidangan alam dan sekitar dari balik kafe itu.
Dia mencatat satu hal di kepalanya, bahwa ternyata rasa pahit juga bisa enak, asal kita tidak terburu-buru menunggunya jadi manis.
Nadia Rizki Tazkiyanti adalah mahasantri Ma’had Aly Kebon Jambu.





