SI JENIUS DAN ROBOT CANGGIHNYA

Siang berkilau di bawah langit yang bening. Hari menjelma menjadi selembar kain emas yang terbentang. Di sebuah desa terpencil, hidup seorang anak jenius bernama Afnan. Setiap pulang sekolah, hari-harinya disibukkan dengan membantu orang tuanya di sawah untuk menanam padi atau hanya sekedar mengusir burung-burung yang memakan padi.

Selain anak yang berbakti kepada orangtuanya, Afnan juga seorang murid kebanggaan sekolah. Bagaimana tidak, ia sudah pernah menjuarai beberapa ajang perlombaan, salah satunya adalah olimpiade IPA tingkat provinsi. Pada ajang perlombaan kali ini, ia menyabet juara satu dan mendapat beberapa penawaran dari sekolah favorit di ibukota untuk melanjutkan pendidikannya di sana.

Setelah mendapatkan kabar baik seusai perlombaan, Afnan pulang dengan wajah sumringah, senyum merekah, dan mata berbinar-binar. Ia tak sabar ingin menyampaikan kabar itu kepada kedua orang tuanya.

“Ayah, Ibu, alhamdulillah Afnan dapat juara 1 di ajang olimpiade ini,” ucap Afnan sambil memperlihatkan pialanya dengan wajah berbinar.

“Alhamdulillah,” ucap orang tuanya dengan penuh syukur dan haru. Mereka memeluk Afnan penuh kasih. Merasa amat bangga dengan anaknya.

“Ayah, Ibu, Afnan punya satu kabar baik lagi. Afnan mendapat tawaran dari sekolah favorit di ibukota untuk melanjutkan pendidikan Afnan di sana.”

Mendengar itu, orang tuanya tak henti mengucap syukur atas prestasi Afnan yang sangat membanggakan.

“Bagaimana, Ayah, Ibu? Apakah boleh Afnan melanjutkan pendidikan di ibukota?” tanya Afnan memastikan.

“Apapun itu, asal untuk masa depan kamu, akan selalu kami support, Nak,” jawab Ayah.

Mendengar penuturan sang ayah, matanya mengeluarkan tetes demi tetes air mata yang langsung membasahi pipinya. Ia tak menyangka bahwa ayahnya akan mengizinkannya melanjutkan pendidikan di ibukota. Karena bersekolah di ibukota adalah sebuah kemustahilan bagi anak-anak di kampungnya. Akses pendidikan lanjutan baik diSMP maupun SMA di ibukota yang cukup sulit, membuat anak-anak kampung seperti mereka tak pernah sekalipun membayangkan bisa bersekolah di sana.

Jarum jam terus berputar pada porosnya. Hari-hari berlalu dan tak terasa kini Afnan sudah duduk di bangku SMP favorit di ibukota. Ya, Afnan berhasil melanjutkan pendidikannya, setelah memikirkan beberapa pertimbangan baik dari dirinya sendiri maupun orang tuanya. Bersekolah di SMP favorit itu membuat ia semakin giat belajar dan banyak mengukir prestasi.

Setiap akhir pekan, Afnan selalu menyempatkan diri untuk pulang ke kampungnya. Tak ada yang berubah dari Afnan. Ia selalu membantu orang tuanya di sawah dan beberapa pekerjaan rumah. Dari banyaknya kesibukan itu, tak lantas membuat dirinya goyah dan tetap menyempatkan diri untuk tetap belajar.

“Afnan, gimana sekolahmu, Nak?” tanya sang ayah sembari menyeruput kopi hitam di teras rumah mereka.

“Baik, Yah. Alhamdulillah,” jawabnya.

“Apa yang membuat ayah begitu lelah bekerja di sawah?” Afnan bertanya balik sembari menyantap gorengan lezat buatan ibunya.

“Pertanyaan macam apa ini?” Ayahnya tertawa lepas, “Semua pekerjaan itu melelahkan. Tapi dari bekerja di sawah, menurut Ayah mengusir buru-burung itu yang paling cukup menguras tenaga karena petani harus terus bergerak, bersuara, atau mengayunkan alat untuk menakuti burung dalam waktu yang ama.
Burung-burung datang berulang kali, jadi petani jarang bisa beristirahat.”

“Ooohhh…” Afnan mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti.

Setelah menghabiskan pekan yang begitu menyenangkan itu, Afnan kembali ke ibukota. Di pagi yang cerah,Afnan mendapat panggilan dari kepala sekolanya untuk mengikuti ajang perlombaan Robot Line Follower, yakni perlombaan merakit robot sederhena.

Terbesit di fikirannya untuk membuat robot pengusir burung di sawah, setelah mengingat penuturan ayahnya beberapa waktu lalu. Beberapa bulan ia dibimbing untuk membuat robot tersebut. Tak terasa, hari menegangkan untuk mengumumkan kejuaraan tiba. Dengan banyaknya saingan dari berbagai sekolah modern dengan murid yang cerdas dan fasilitas yang lengkap, siapa sangka jika Afnanlah yang berdiri di podium tertinggi sambil membawa piala dan menggenggam bendera Merah Putih erat-erat. Afnan, bocah dari kampung terpencil dengan kondisi ekonomi yang terbatas dan perjuangan mencapai pendidikan yang tidak mudah, berhasil mengharumkan nama Indonesia di ajang perlombaan Robot Line Follower.

Ia berhasil merakit robot pengusir burung yang diberi nama “Bird Repellent Agro-Drone”, yakni robot pengusir burung dengan bentuk drone. Bukan tanpa alasan mengapa Afnan ingin menciptakan robot tersebut, tidak lain dan tidak bukan adalah bentuk persembahan untuk kedua orangtuanya, yang amat kelelahan mengusir burung-buruh di sawah mereka. Selain daripada itu, ia berharap semoga robot yang ia ciptakan dapat dimanfaatkan oleh banyak petani di Indonesia agar tidak banyak menguras energi mereka.

Murni Aminah adalah mahasantri Ma’had Aly Kebon Jambu.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top