PETIR MENGINGATKAN PERJALANAN PANJANG

Sore itu, di Aula Gedung Ma’had Aly Kebon Jambu, seorang gadis sedang mengikuti Workshop Kelas Menulis yang diadakan oleh DEMA Ma’had Aly Kebon Jambu. Hujan turun begitu deras disertai gemuruh angin terasa seperti amukan malaikat maut. Kilau petir yang silih berganti muncul bagaikan lensa kamera yang memotret berkali-kali.

“Tidaaak! aku tidak bisa fokus,” teriaknya dalam hati.

Jantungnya berpacu sangat cepat, dia berkali-kali terkejut. Kilat petir itu amat silau di kaca matanya.

Dia teringat rumahnya di Sumatera.

Dalam sekejap, ingatan itu mengantarkannya pada kenangan akan sebuah rumah kumuh berlantaikan tanah. Di bawah derasnya hujan, dua anak dengan siaga menghalau aliran air masuk kedalam rumah mereka. Membuat parit-perit kecil dengan cangkul yang kelihatan begitu besar di tangan kedua anak kecil itu.

“Kak bagaimana ini? Hujannya semakin deras,” teriak sang adik perempuan. Nampak khawatir dan panik.

Tangan mereka sudah gemetar dan bibir mereka terlihat pucat. Tapi hal itu tidak membuat keduanya  menyerah.

“Jangan hawatir, Dik. Kita bisa menghalaunya,” ujar sang kakak. Tetap teguh guna menguatkan adiknya.

Hingga kedua orang tua mereka pulang dari sawah, barulah air berhenti dan tidak lagi menyeruak ke dalam rumah mereka.

Beberapa tahun kemudian, gadis itu tidak begitu mengingat kenangan selanjutnya. Yang dia ingat, Allah begitu baik pada keluarganya. Dari hasil kerja keras ayah dan ibunya, mereka bisa tinggal di rumah serta yang nyaman serta memiliki kendaraan roda 4. Bahkan, dia dan adiknya masuk di Pondok Pesantren yang bergengsi.

“Ayah bukan pejabat seperti ayah yang lain. Tapi ayah dan ibu akan mengusahakan pendidikan yang terbaik untuk kalian,” nasihat sang ayah, yang hingga kini masih diingatnya.

“Kami tidak ingin kalian merasa tertinggal dari sepupu-sepupu kalian, yang bisa sekolah dan meraih cita-citanya,” ucap ibu, melanjutkan nasihat ayah.

Namun, entah kenapa setiap kali mereka ingin mengikuti event di sekolah, baik dari SD hingga aliyah, sang ayah tidak pernah mengijinkan mereka untuk ikut. Sebagai gantinya, ayah akan mengajak mereka pergi ke tempat wisata yang ia inginkan.

“Kelak, dengan ilmu yang bermanfaat, bisa membawa kalian jauh menapaki seluruh tempat yang kalian inginkan hingga kalian bosan,” ucap sang ayah setiap kali mereka izin ingin keluar atau bepergian dengan temannya.

Dari situlah, ia paham jika ayah tidak ingin mereka terlalu hanyut dalam kesenangan sesaat dan tetap fokus pada cita-cita mereka yang lurur.

Usai lulus Aliyah, anak kedua pertama itu ingin sekali pergi ke pantai bersama teman-temannya. Ia menikmati suasana di pantai ketika ayah pernah mengajaknya dulu. Dan kini ia ingin bejalan-jalan di pantai lagi.

Namun, sangat sulit baginya untuk mendapatkan izin hingga teman-temannya ikut turun tangan memintakan izin kepada sang ayah. Dengan kata-kata yang sangat meyakinkan, “Kami didampingi oleh orang tua Lira, Paman,” buku temannya.

“Kami akan menjaganya dan pasti baik-baik saja,” sambung yang lain.

Akhirnya ayah memberi izin, dengan syarat ia yang mengantarkan mereka ke rumah Lira untuk memastikan keselamatan mereka.

Sebetulnya mereka ingin menolak. Sebab, jarak ke rumah Lira kurang lebih dua jam. Akan tetapi, mau tidak mau si anak dan teman-temannya hanya bisa mengiyakan permintaan ayah, agar rencana mereka untuk bermain di pantai bersama-sama terkabul.

Sepulang dari pantai, anak gadis itu kelelahan. Membuatnya hanya berbaing selama sisa liburan sambil menunggu hasil seleksi perguruan tinggi yang ia ikuti.

Tak lama kemudian, pengumuman kelulusan perkuliahan yang ia tunggu akhirnya tiba. Dia sangat senang ketika melihat pengumuman itu karena dia lulus seleksi Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB), dengan tujuan rujukan di  Ma’had Aly Kebon Jambu.

Seketika gadis itu tersadar dari lamunannya, ketika pemateri mulai berjalan-jalan ke arah peserta hendak memeriksa tulisan mereka satu-persatu.

Ternyata, ingatan saat ia kecil dan kenangannya hingga ia sampai di Pondok Kebon Jambu ini membuatnya lupa jika dia sedang mengikuti workshop.

Dia tersenyum kecil. Siapa sangka jika sekarang dua anak kecil yang hujan-hujanan untuk menghalau air agar tidak masuk ke rumahnya itu, kini sudah sangat jauh dari kampung halamannya dan mengelilingi banyak tempat seperti yang pernah dikatakan oleh ayah mereka. Sang adik itu adalah dirinya, yang kini menempuh kuliah di Ma’had Aly Kebon Jambu, Cirebon, Jawa Barat. Sedangkan kakaknya di Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir. Masing-masing dari keduanya mulai meniti mimpinya, dengan membawa seluruh impian ayah dan ibu mereka.

Cyndy Aulia Batubara adalah mahasantri semester 6 Ma’had Aly Kebon Jambu.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top