BINTANG DI ATAS HALAMAN MASJID

Suasana malam itu merayap turun dengan sejuk kesejukan yang seperti selimut tipis yang menenangkan kulit. Di halaman masjid, aku dan kedua temanku duduk berdampingan. Kaki kami menyentuh lantai halaman mesjid yang terasa dingin oleh udara malam. Kami sengaja memilih tempat ini karena ia memberi satu hadiah yang tak disediakan bagian lain dari banyaknya bangunan di Pondok ini, yaitu langit yang terbuka lebar. Bukan di pelataran masjid atau bukan pula di dalamnya. 

Di pelataran masjid, beberapa orang duduk sambil bercakap pelan. Tempat yang biasanya menjadi ruang singgah bagi mereka yang berhalangan masuk ke dalam masjid. Sementara itu, dari balik pintu kayu besar, terdengar suara lembut lantunan zikir dari para santriwati di dalam masjid.

Hari semakin gelap. Hewan-hewan malam mulai bangun dan mengisi udara dengan suara khas mereka. Dari balik semak, terdengar gesekan kecil serangga, dan dari atas kabel listrik melintas bayangan kelelawar. Tak lama kemudian, gangguan yang paling akrab bagi kami mulai datang, yaitu nyamuk.

Seekor demi seekor terbang mendekat, melingkari tangan dan kaki, seakan ikut ingin menjadi bagian dari keheningan itu.

“Wah, mulai datang,” gumamku sambil menepuk pelan lengannya.

“Di waktu-waktu begini memang mereka lebih ganas,” kata Ghina, terkekeh kecil.

“Udah biasa, kan?” tanya Nadia, yang jelas tak perlu jawaban sebab betapa biasanya hal itu.

Kami tertawa pelan, lalu saling menggeser duduk. Menyembunyikan bagian tubuh yang terbuka sambil tetap menjaga pandangan ke langit. Gangguan kecil itu tak benar-benar mengusik. Kami seakan sudah berteman dengan ritme malam seperti ini: nyamuk yang agresif, serangga yang keluar, dan angin yang mulai dingin.

Tak seperti biasanya, bintang-bintang malam ini tidak banyak. Mungkin hanya sekelompok kecil titik cahaya yang tersisa. Namun bagi kami, bintang sedikit pun sudah cukup untuk memunculkan rasa damai yang sulit dijelaskan.

Di bawah langit yang sederhana itu, kami merasakan sesuatu yang tidak bisa mereka beri nama. Yaitu rasa tenang yang tak tergantikan, seolah bintang-bintang kecil itu sedang menyampaikan pesan bahwa ketenangan tidak selalu datang dari hal-hal besar, melainkan dari hal-hal kecil yang tulus. Meski sederhana dan ditemani suara malam, dengan gigitan nyamuk yang tak pernah absen.

Dan malam itu, halaman masjid menjadi saksi bahwa kami, tiga anak bisa menemukan kedamaian hanya dengan duduk bersama dan menatap langit. Duduk di halaman masjid selalu memberi kesan berbeda bagi kami. Halamannya yang luas, dengan pepohonan di sekelilingnya, menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Hari-hari kami sebagai mahasantri baru dengan suasana pesantren yang baru, tentu saja menjadi sebuah tantangan. Sebab, kami yang sebelumnya mesantren dengan waktu yang cukup lama dan tentunya membuat kami sampai krasan, mau tak mau harus pindah ke pesantren tempat kami dirujuk sebagai penerima beasiswa. Tentunya tidak mudah bagi kami untuk beradaptasi kembali. Namun, mau tak mau kami akhirnya menerima dan mulai membiasakan diri dengan rutinitas di sini.

Di antara sudut-sudut ruang dan gedung di pondok baru kami ini, bagi kami halaman masjidlah tempat paling nyaman untuk merenung sambil menikmati suasana malam. Ia seakan menjelma menjadi ruang untuk menampung cerita-cerita sunyi dari hati kami. Juga menjadi tempat berlabuh bagi kami, jika kami merasa jenuh dengan rutinitas baru ini.

Terlebih lagi bagiku, yang sejak pagi sudah berkutat dengan layar elektronik membuatku jengah. Meskipun hanya beberapa jam, rasanya cukup untuk membuat mata dan kepala terasa berat. Saat itu aku ingin cepat-cepat menyelesaikan tugas yang sedang kukerjakan, karena memang sangat  melelahkan  berhadapan dengan komputer.

Namun saat duduk di halaman masjid, menghirup udara malam dan memandang langit, semuanya terasa lebih ringan. Kepalaku seperti kembali lapang, dan mataku pun terasa lebih segar ketika melihat alam secara langsung, bukan melalui cahaya layar.

Kontrasnya peraturan terkait elektronik antara pesantren dulu dan sekarang, membuatku berpikir jika di jaman sekarang ini, hampir semua hal serba elektronik. Hal itu menjadikanku harus lebih peka dan bisa menyesuaikan diri antara dunia maya dan nyata. Aku harus lebih pandai mengatur waktu, agar tidak terlalu lelah ketika  berhadapan dengan perangkat digital dalam jangka waktu yang cukup lama. Karenanya, refreshing atau healing sederhana seperti melihat bintang menjadi salah satu alternatif menjernihkan pikiran dari kejenuhan di perangkat digital. Dengan begitu, aktivitas kita tetap berjalan dengan baik tanpa mengabaikan kesehatan.

Top of Form

Bottom of Form

_______________

*Sri Mulliyani adalah perempuan yang lahir di Sungai Sirah pada tanggal 23 Januari 2006. Gadis muda berusia 19 tahun itu tinggal di Nagari Simpang TJ Nan IV, Kec. Danau Kembar, Kab. Solok, Prov. Sumatera Barat, Indonesia.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top