LUKA DAN KUA

oleh: Bambang Fadhillah –

Bau kertas tua menguar disertai debu halus yang menempel di tumpukan berkas akta nikah. Perlahan wangi asap dari warung sate di seberang jalan kantor pun turut menyeruak menambah kepekatan aroma khas di Kantor KUA. Tapi Galih sudah terbiasa. Sebab semua itu adalah bagian dari rutinitas hariannya semenjak setahun yang lalu ia menginjakkan kaki di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Cinta Jaya. Sebuah daerah kecil di peta yang jauh dari hiruk pikuk ibukota provinsi.

​Galih menjabat sebagai staf administrasi. Ia dikenal sebagai pribadi yang efisien, teliti, dan selalu tersenyum. Dia merupakan salah satu pegawai muda di antara pegawai kantor yang kebanyakan berusai 30 tahun keatas. Senyumnya yang ramah, meski sering diselimuti rasa lelah, adalah alasan mengapa banyak calon pengantin merasa nyaman saat hendak mengajukan hal ihwal kebutuhan administrasi pernikahan di meja kerjanya.

​Teman terbaiknya, sekaligus satu-satunya yang dekat dengannya di kantor itu karena umur yang berdekatan, adalah Siti. Seorang gadis yang bekerja di bagian pencatatan dan arsip itu adalah sosok yang sejuk seperti embun pagi. Ia cantik, dengan sorot mata yang teduh bak dedaunan pohon beringin dan tawa renyah yang selalu bisa menanggapi lelucon garing Galih.

Tak ada yang tahu jika Siti menyimpan perasaan pada Galih. Hingga di satu kesempatan, ia pernah memberanikan diri mengungkapkannya.

​“Galih,” katanya suatu sore, ketika kantor telah sepi.

“Iya, kenapa?” jawab Galih menanggapi panggilan Siti sembari merapikan tumpukan berkas di meja kerjanya.

“Aku……,” terdengar keraguan dalam nadanya diiringi dengan diam yang cukup lama lantaran menahan kegugupan.

“Aku suka sama kamu,” pungkasnya kemudian. Melanjutkan ucapannya yang sempat terpotong.

​Galih tertegun. Dari tempatnya Siti meliihat Galih mematung. Mungkin masih mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh Siti.

Tak lama ia menoleh dengan senyum tipis berusaha menenangkan Siti yang sudah pasti tengah berdebar kencang.

Perlahan senyum itu membaur dengan ekspresi yang lembut namun penuh kesedihan. “Siti, kamu tahu bahwa mawar hanya layak untuk lebah, bukan untuk lalat. Jadi, cintailah orang yang lebih baik dari aku,” jawabnya. Seolah-olah merasa tak layak mendapatkan cinta dan ketulusan Siti.

I​tu bukan bentuk penolakan terhadap fisik atau sifatnya. Namun dari cara Galih menatap jauh ke luar jendela, ia paham betul jika hati laki-laki itu sedang berjuang menyembuhkan luka yang tak terlihat. Luka yang pernah membuat Galih merasa belum pantas dicintai atau mencintai.

Akan tetapi Siti bukanlah tipe perempuan pemaksa atau mudah terbawa perasaan. Dia menghormati penuh keputusan Galih. Menerima dengan lapang jika memang ternyata Galih tidak memiliki perasaan yang sama. Yang terpenting, dia sudah mengungkapkan apa yang ia rasakan.

Siti tak ambil pusing sampai semuanya berjalan normal kembali seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu. Hingga suatu pagi di awal bulan baru, hari yang seharusnya membuat Galih bahagia karna ia baru saja mendapat gaji, berubah menjadi situasi yang tak mengenakan.

Kehadiran sebuah motor matic yang berhenti di halaman KUA, diikuti seorang wanita yang turun perlahan dari motor itu, menarik perhatian Galih. Ia membawa membawa map tebal dan tas selempang cokelat yang tersampir di bahunya. Langkahnya mantap menghampiri Kepala KUA, yang dengan sigap langsung mengenalkannya kepada seluruh staf.

​“Perkenalkan, ini Dini. Staf administrasi baru yang akan bekerja dengan kita mulai hari ini,” kata Ibu Khalifah, selaku Kepala KUA yang memperkenalkan Dini kepada seluruh pegawai.

​Mata Galih tak berhenti menatap pegawai baru itu. Meski yang ditatap bersikap acuh tak acuh. Namun perlahan, Galih menyadari jika kehidupannya seolah berhenti berjalan. Bau kertas tua, debu berkas, dan asap sate, semuanya lenyap digantikan hawa dingin yang menusuk tulang. Senyum andalannya yang kokoh kini runtuh seketika.

Dalam sekejap ingatannya dipenuhi kenangan dengan seorang sosok perempuan. Yang entah mengapa kini hadir di depan matanya. Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak. Sesak jika kemudian dia akan bekerja dengan Dini. Wanita yang dulu pernah menciptakan kenangan indah bersamanya.

Ya. Dini adalah mantan kekasihnya. Atau lebih tepatnya, ‘Mantan Hubungan Tanpa Status’. Mereka tak pernah secara resmi berpacaran. Namun keduanya menghabiskan tahun-tahun terakhir masa kuliah dalam ikatan emosional yang intens dan tak terucapkan. Yang berakhir begitu saja tanpa adanya penjelasan. Menyisakan kekosongan yang diyakini Galih sudah ia kubur dalam-dalam tapi ternyata masih menyisakan rasa sakit yang tak mampu ia akui.

​Ia tak menyangka jika kemudian hari-harinya di KUA kecamatan Cinta Jaya berubah menjadi medan perang emosional.​ Kehadiran Dini adalah bentuk nyata pengkhianatan dari masa lalu yang ia kira sudah saling berdamai. Setiap kali ada pekerjaan yang mengharuskan Galih berkoordinasi dengannya seperti membahas file yang hilang, atau menentukan jadwal rapat menumbuhkan rasa marah yang mendidih di dadanya. Itu bukan sekadar hanya amarah karena ditinggalkan, itu amarah karena Dini yang terlihat begitu santai, seolah masa lalu mereka hanyalah sekelumit debu yang tertiup angin.

​Galih mulai menjaga jarak, mengurangi kosa kata yang ia keluarkan, dan senyumnya yang hangat kini mulai hilang. Ia sering terlihat menghela napas berat atau tiba-tiba tegang saat Dini lewat di depan mejanya.

​Siti, yang diam-diam memperhatikan adanya perubahan pada sikap Galih dengan mudahnya menyadari. Ia melihat bagaimana mata Galih yang hangat berubah menjadi dingin setiap kali menatap Dini, atau bagaimana Galih dengan yang menghindar jika ada wanita itu. Sampai-sampai ia tampak sengaja memutar jalan agar tidak berpapasan Dini.

Maka pada suatu siang​, Siti mendekati Galih yang tengah menyantap sate favoritnya. Ingin memastikan sesuatu.

​“Galih,” panggil Siti lembut, “Kamu sekarang terlihat berbeda. Kamu seperti orang asing. Seperti bukan kamu,” ujarnya tanpa tedeng aling-aling dengan raut wajah yang tampak khawatir.

​Galih menanggapi Siti dengan menusuk lontong menggunakan tusuk sate dengan kasar, “Aku baik-baik aja, Sit. Hanya lagi banyak kerjaan,” katanya seperti tak ingin diganggu.

​“Aku tahu kamu berbohong,” balas Siti. Suaranya mengandung kesedihan yang mendalam. “Aku tahu kamu marah. Setiap kamu marah, bahu kananmu naik sedikit. Dulu, kamu begitu kalau ada file yang hilang, atau ketika sedang berhadapan dengan pendaftar yang susah diberitahu. Sekarang, kamu begitu setiap kali Dini…” Siti terdiam. Seketika mulutnya bungkam dan memutuskan untuk tidak melanjutkan kalimatnya. Ia merasa tak perlu sebab ia tahu Galih paham apa yang akan ia katakan.

​Seketika Siti merasa hatinya perih. Bukan hanya karena Galih berubah, tapi karena ia tahu alasan perubahan itu adalah Dini, wanita yang kini ada di hadapan mereka setiap hari. Luka yang Galih bawa dari masa lalu, luka yang membuat Galih menolaknya, kini telah kembali dalam wujud yang nyata, dan ia harus melihat Galih kembali terluka di depan matanya.

​Dalam diam, Siti menyadari. Penolakan Galih, permintaan “cintailah orang yang lebih baik dari aku,” bukan sekadar kata-kata manis. Itu adalah dinding pertahanan yang ia bangun dari sakit hati. Dan kini, orang yang memciptakan rasa sakit itu datang kembali, membawa palu  gada untuk meruntuhkan pertahanan yang telah lama Galih jaga.

​Galih menatap Siti, melihat kejujuran dan rasa sakit di mata gadis itu. Ia ingin meminta maaf karena telah menutup diri, ingin menjelaskan bahwa kemarahannya bukanlah untuk Siti. Tapi, kata-kata itu tercekat.

​Ia hanya bisa menunduk. Mengakui dalam hati jika kedatangan Dini tidak hanya membangunkan luka lama, tapi juga perlahan-lahan menghancurkan kedekatan dan kepercayaan yang telah ia bangun dengan satu-satunya orang yang peduli padanya di tempat terpencil ini, yaitu Siti.

​“Aku akan mencoba kembali seperti yang kamu kenal, Sit,” ujar Galih pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada untuk Siti.

​Namun, di balik janjinya, Galih tahu. Selama Dini masih ada di KUA Cinta Jaya, setiap hari akan menjadi pengingat bahwa hati yang ia kira sudah sembuh, ternyata hanya tertidur. Dan kini, ia harus belajar hidup berdampingan dengan luka dan kemarahan itu, di antara tumpukan akta nikah yang seharusnya menjadi simbol awal yang baru, bukan akhir yang pahit.

Sebulan berlalu, Galih merasa hari demi hari terasa sangat berat, berbanding terbalik ketika Dini belum merusak tatanan hidupnya yang ia bangun setahun belakangan. Hingga sore itu, setelah jam kantor usai dan suasana telah sepi, Galih yang sedang merapikan meja kerja melihat Dini berjalan menuju teras belakang kantor, tempat para pegawai biasa menikmati pemandangan perbukitan yang hijau. Dulu pemandangan itu juga selalu menjadi obat manis baginya, namun kini terasa hambar lantaran kehadiran Dini.

​Dini membalikkan badan, melihat Galih yang berdiri di ambang pintu hendak keluar kantor, wanita itu segera mencegahnya, “Galih, bisa bicara sebentar?”

​Galih menengok dan menarik napas panjang. Ia tahu momen ini akan datang dan ia harus menghadapinya.

Di teras belakang kantor yang sunyi, saat angin sore membawa aroma dedaunan basah, mereka berbincang soal masa lalu yang masih mengguncang. Suasana tak nyaman tampaknya semakin terasa tatkala matahari mulai tenggelam meninggalkan langit dengan warna jingga dan ungu.

​“Aku… minta maaf, Galih,” kata Dini, langsung ke intinya. Ia menatap ke arah perbukitan, menghindari mata Galih. “Aku tahu kemarahmu bukan tanpa alasan. Dua tahun yang lalu, aku menghilang begitu saja. Aku datang ke sini bukan hanya untuk bekerja, tapi juga… untuk merapikan sisa yang aku tinggalkan,” ungkapnya, dengan mata berkaca.

​Galih menarik napas perlahan. Ia menatap Dini dan mulai menyusun kata. “Kamu tidak perlu repot-repot minta maaf, Din. Itu sudah berlalu lama sekali.”

​“Aku harus,” Dini memejamkan mata sejenak,  melanjutkan “Penyebab aku pergi… itu adalah pilihan terbaik menurutku.”

​Ia lalu menceritakan semuanya, tentang seorang laki-laki yang tiba-tiba datang dalam kehidupannya, lalu menawarkan keseriusan selepas ia lulus kuliah. Cara pandang laki-laki itu, menurut Dini memiliki kesetaraan yang tidak pernah ia temukan dalam hubungan tak bernamanya bersama Galih. Cara pandang yang meluluhkan hatinya

​“Dia punya segalanya. Status, pekerjaan yang mapan, pemikiran terbuka dan… keberanian untuk memintaku menjadi pasangannya secara resmi,” ucap Dini. Ada jeda panjang dalam kalimatnya. “Saat itu, aku berpikir, ini yang aku butuhkan.”

Dini menarik napas sejenak. “Saat itu aku mulai merasa takut dengan hubungan tanpa kejelasan kita, takut menghabiskan waktu dengan seseorang yang meski kurasa nyaman, tapi tidak pernah berani memberikan status pasti. Aku pengecut, karenanya, aku memilih jalan yang aman,” jelas Dini, melanjutkan pembicaraannya dengan nada gemetar.

“Tapi perlahan aku sadar. Harapan pada lelaki itu hanyalah pelarian atas apa yang tak pernah aku dapatkan darimu. Lama-lama aku merasa kosong menjalani hubungan dengannya, dan mulai teringat masa-masa saat kita bersama dengan janji akan sama-sama berjuang meniti kebahagiaan untuk masa depan.”

​Tak terasa air matanya mulai menetes. Di balik penyesalannya, tersimpan sebuah harapan yang mendalam dan teramat besar, bahwa dengan penjelasan ini, ia bisa membuka babak baru, kembali mengulang masa lalu, dan meminta kesempatan memulai yang lebih baik dengan status yang jelas dan lebih jauh kali ini. 

​Galih mendengarkan seluruh cerita itu tanpa memotong, wajahnya tetap datar. Di luar, ia berusaha bersikap dewasa dan memaafkan. Di dalam, ia merasakan tusukan yang sama, sakit yang sama, meski ia sudah tahu benang merahnya.

​Ia melangkah mendekat. Perlahan, tangannya terangkat dan mendarat lembut di kepala Dini, mengelus rambutnya yang halus. Tindakan itu, alih-alih seperti rasa penuh cinta, justru terasa seperti pelepasan yang menyakitkan.

​“Aku mengerti atas pilihan yang dulu kau buat, dan aku memahami itu,” suara Galih terdengar sangat tenang, terlalu tenang. “Dan sejujurnya aku sudah tahu, jauh sebelum kau beritahu, ​Hanya saja, aku teringat bahwa aku tidak punya hak dan kendali atas kehidupanmu. Pilihanmu adalah mutlak milikmu,” lanjutnya, masih dengan suara yang tenang, bahkan teramat tenang untuk seseorang yang sedang merasakan kesedihan.

​Galih menarik napas panjang, menatap Dini dengan sorot mata yang dipenuhi kesedihan.

​“Hidup ini tentang keseimbangan. Kamu berhak mendapatkan seseorang yang setara dengan dirimu. Yang mampu mengimbangi kecantikanmu dengan ketampanannya. Yang mampu mengimbangi kepintaranmu dengan pengetahuan dan kemampuannya. Yang mampu mengimbangi derajatmu dengan hartanya.”

​“Tapi sekarang aku tidak menginginkan itu,” sahut Dini sambil berusaha menggenggam tangan Galih.

Galih menarik tangannya, menjauhkan diri dari genggaman itu itu. Ia memberikan senyum kecil, senyum yang hanya terbentuk di bibir, tapi sama sekali tidak mencapai mata hatinya.

​“Aku memaafkanmu. Hiduplah dengan bahagia. Benar-benar bahagia, dengan pilihanmu, tak perlu pikirkan aku,” pinta Galih.

​Dini terdiam. Ia baru saja meminta maaf, berharap membuka pintu lama, namun Galih justru menutupnya dengan cara yang paling halus, memberinya validasi atas pilihan masa lalu, dan menolak tawaran masa depan. Kalimat-kalimat yang Galih keluarkan terdengar seperti pujian, tapi ternyata itu adalah dinding tebal yang tak bisa ia lewati. Galih telah membebaskannya, sekaligus memisahkannya secara permanen.

​Galih berbalik, meninggalkan Dini sendirian di teras belakang yang dingin, memandang perbukitan yang kini menggelap, karna sang surya yang kini sudah sempurna tenggelam. Langkahnya mantap, tetapi hatinya terasa seperti serpihan kaca yang baru saja ia sapu bersih, hanya untuk tahu bahwa masih ada potongan tajam yang tertinggal dan siap melukai lagi.[]

_______________

*Bambang Fadhillah adalah mahasantri Ma’had Aly Kebon Jambu.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top