SANTRI MELEK TEKNOLOGI:PERSPEKTIF KH. SAID AQIL SIRADJ

Di tengah pesatnya perkembangan zaman dan derasnya arus digitalisasi, dunia pendidikan Islam, khususnya pesantren, menghadapi tantangan baru. Santri kini tidak hanya dituntut menguasai ilmu agama, tetapi juga harus adaptif terhadap perkembangan teknologi. KH. Said Aqil Siradj, salah satu ulama besar Indonesia dan mantan Ketua Umum PBNU, sering menekankan pentingnya keseimbangan antara tafaqquh fiddin (pendalaman agama) dan penguasaan ilmu modern. Perkembangan teknologi digital pada era sekarang telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Hampir semua aktivitas, mulai dari komunikasi, pendidikan, hingga perdagangan, sudah terhubung dengan internet dan perangkat digital. Kondisi ini juga memberi tantangan bagi santri sebagai generasi penerus ulama dan penjaga tradisi pesantren. Santri tidak boleh hanya berkutat dengan kitab kuning semata, tetapi juga perlu memahami perkembangan teknologi agar bisa berperan aktif di masyarakat modern.

KH. Said Aqil Siradj, seorang ulama besar dan mantan Ketua Umum PBNU, sering menekankan pentingnya integrasi antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern, termasuk teknologi. Menurut beliau, pendidikan pesantren harus mampu mencetak santri yang bukan hanya ahli dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki bekal keterampilan untuk menghadapi perkembangan zaman. Dengan begitu, santri bisa tetap menjaga tradisi pesantren sekaligus tampil sebagai agen perubahan di era digital.

Pandangan KH. Said Aqil Siradj tentang Teknologi

KH. Said Aqil Siradj memandang bahwa pesantren perlu menyiapkan santrinya menghadapi arus globalisasi dan digitalisasi. Dalam beberapa kesempatan, beliau menyebut bahwa teknologi memang membawa manfaat besar, tetapi juga mengandung risiko yang tidak kecil. Media sosial misalnya, bisa menjadi sarana dakwah dan pendidikan, tetapi juga berpotensi menimbulkan perpecahan jika digunakan tanpa etika.

Karena itu, santri perlu dibekali dengan literasi digital yang kuat agar mampu memanfaatkan teknologi secara positif.

Selain itu, KH. Said menegaskan bahwa pendidikan Islam seharusnya berorientasi pada peradaban (khadhoroh). Artinya, pesantren harus melahirkan generasi yang mampu menjaga keseimbangan antara tsaqofah (nilai budaya dan agama) dengan tamaddun (kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi). Dengan kerangka ini, santri diharapkan tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, tetapi juga bisa ikut berkontribusi melalui kreativitas dan inovasi. Dalam beberapa ceramahnya, beliau menyampaikan bahwa santri harus menjadi pionir dalam menggunakan media sosial secara positif—menyebarkan ilmu, memperkuat persaudaraan, serta mengedukasi masyarakat tentang Islam yangmoderat dan rahmatan lil ‘alamin.

Peran Santri dalam Era Digital

Dengan arahan tersebut, santri sebenarnya memiliki peluang besar di era digital. Pertama, dalam bidang pendidikan, santri dapat mengembangkan platform belajar online atau membuat konten kajian keislaman yang bisa diakses masyarakat luas. Kedua, dalam bidang dakwah, santri bisa memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan pesan Islam yang moderat dan menyejukkan. Ketiga, dalam bidang ekonomi, santri bisa ikut terjun ke dunia usaha berbasis digital, misalnya dengan memanfaatkan e-commerce.

KH. Said Aqil Siradj juga pernah mengingatkan bahwa di tengah derasnya arus media sosial, pesantren harus tetap menjadi benteng moral. Hal ini penting agar santri tidak hanya pandai menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki filter moral yang kuat dalam menentukan mana yang baik dan mana yang tidak pantas.

Selain itu, KH. Said Aqil Siradj menyoroti pentingnya pesantren untuk menyesuaikan kurikulumnya agar tidak tertinggal oleh zaman. Pesantren diharapkan tidak hanya mengajarkan kitab kuning, tetapi juga memperkenalkan literasi digital, bahasa asing, dan keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis dan komunikasi global. Dengan begitu, santri bisa menjadi generasi yang siap bersaing di dunia internasional tanpa kehilangan akar tradisi keilmuannya. Pesantren harus mampu membangun ecological balance antara ilmu agama dan ilmu umum.

Tantangan yang Harus Dihadapi

Meskipun peluangnya besar, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi santri untuk benar-benar melek teknologi. Pertama, keterbatasan fasilitas di banyak pesantren membuat akses terhadap perangkat digital belum merata. Kedua, masih ada sebagian guru atau ustaz yang belum terbiasa dengan teknologi, sehingga proses pembelajaran berbasis digital belum optimal. Ketiga, adanya risiko penyalahgunaan teknologi seperti kecanduan media sosial atau terpapar konten negatif.

KH. Said menekankan pentingnya kerja sama antara pesantren, pemerintah, dan masyarakat dalam menghadapi tantangan ini. Dengan dukungan semua pihak, pesantren bisa menyediakan sarana digital yang memadai, melatih guru agar lebih adaptif, serta mengarahkan santri untuk menggunakan teknologi secara bijak.

Kesimpulan

Dari pemikiran KH. Said Aqil Siradj, jelas bahwa santri harus bersikap terbuka terhadap perkembangan teknologi tanpa meninggalkan tradisi pesantren. Melek teknologi bagi santri bukan berarti meninggalkan kitab kuning, melainkan menambah keterampilan agar bisa berperan lebih luas di tengah masyarakat modern. Dengan bekal ilmu agama dan literasi digital yang seimbang, santri diharapkan mampu menjadi agen perubahan, menghadirkan Islam yang damai, moderat, dan relevan dengan tantangan zaman.

oleh: Muhammad Abdurrozaq – Mahasantri Semester 2

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top