Sinar matahari siang sangat menyorot Gedung Kampus Ma’had Aly dan Pondok Kebon Jambu Al-Islamy. Setiap hari, meskipun hawa panas dari sorot matahari itu, tak pernah sekalipun melunturkan kesemangatan Rina mengikuti kegiatannya di Ma’had Aly. Setelah waktu kuliah ini beristirahat dan menunggu matakuliah selanjutnya, tiba tiba pengurus putri bagian kegiatan ini datang menghampiri rina.
Di kampus, Rina merupakan seorang mahasantri anggota Dewan Eksekutif yang cukup pendiam. Namun, meski pendiam, banyak yang tahu jika Rina sebetulnya cerdas. Jika dalam suatu kesempatan ada acara atau kegiatan, meski sebagai tim belakang layar, Rina mampu menghandlenya dengan baik.
Suatu hari, Rina diminta untuk menggantikan kepala pondok untuk mendampingi sekelompok mahasiswa dari UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Para mahasiswa itu datang untuk observasi tentang Pondok Kebon Jambu.
“Rina, kamu bisa, kan gantiin Kepala Pondok dulu buat bantu jelasin hal-hal yang mereka tanyain?” tanya Mbak Dian, salah seorang Pengurus Putri dengan nada yang merayu.
“Kenapa harus aku Mbak?” tanya Rina merasa tak layak. “Memangnya kemana Mbak Giselnya?”
“Mbak Giselnya lagi ada rapat mendadak di luar pondok,” jawab Mbak Dian. “Kan, kamu pinter ngomong di depan orang banyak. Kamu juga udah 8 tahun mondoknya. Jadi, bisalah bantu-bantu jelasin tentang Kebon Jambu ke mereka,” pinta Mbak Diyan dengan nada meyakinkan agar Rina menerima permintaannya.
Rina menarik nafas perlahan, “Emang di mana tempatnya, Mbak?” tanyanya kemudian, nampak tak mampu menolak permintaan Mbak Dian.
“Cuma di ruang rapat saja, kok gak sampe muter muter. Merekanya udah nunggu juga di sana.”
“Oooh. Yaudah, deh. Aku siap-siap dulu,” jawab Rina sambil melenggang pergi menuju kamarnya, hendak bersiap-siap.
Setelah dia berganti baju yang lebih formal dan merias sedikit wajahnya, Rina memberanikan diri untuk berusaha tenang disaat sekelompok observasi itu mulai bertanya tanya. Bahkan mereka menanyakan tentang pengalamannya selama ia mesantren selama 8 tahun di Pondok Kebon Jambu. Meskipun dalam hati Rina masih merasa canggung saat diwawancara, ia mencoba menjawab sedetail dan seruntut mungkin.
“Mesantren selama 8 tahun membuatku belajar menerima hal-hal yang terjadi di luar kehendak kita. Bukan karena pasrah, tapi karena yakin jika akan ada pelangi indah setelahnya,” ujar Rina berbagi tentang pengalamannya di Pondok yang membuatnya mampu berpikir lebih bijkasana.
Rina sendiri sebetulnya tidak menyangka bisa berucap demikian. Mungkin ini didorong oleh perasaan ingin belajar dan lebih berani menampilkan siapa diri kita. Apalagi dulu, ekspektasinya tentang dunia perkuliahan itu cukup ekstrim dengan bahasa yang tinggi dan intelektual. Namun ternyata, semua itu tergantung kemampuan kita, kemauan kita ingin melangkah kemana, dan senyamannya kita ingin menjadi versi seperti apa.
Mungkin anggapan orang-orang tentang dirinya yang cerdas agak berlebihan. Dia hanya ingin belajar dan bekerja semaksimal mungkin. Ingin melihat semua yang menjadi tanggung jawabnya berjalan sempurna tanpa cela, juga selalu ingin tahu banyak akan beberapa hal. Mungkin sikapnya itulah yang membuat orang lain menganggapnya cerdas.
Terkait berani tampil pun, adakalanya dia masih canggung dan belum terbiasa. Namun karena agenda dadakan ini menuntutnya, ia mau belajar dan mencoba memberanikan dirinya untuk memberikan yang terbaik kepada tamu.
Dan hasil akhir dari dedikasinya atau apa itu, Rina memahami bahwa semuanya akan menjadi sebuah pengalaman dan pelajaran berharga dalam hidup. Seberapa pun kita merasa tidak sanggup mengatasi hal-hal yang baru kita, tetapi ketika kita sudah berhasil melaluinya, mungkin akan ada rasa bangga dalam diri yang sudah berani mencoba berproses. Sekaligus menambah warna-warni pengalaman dan kulitas untuk menggali sang pelangi yang sebenarnya tertanam dalam diri.
Karenanya, Rina selalu mengatakan pada nuraninya untuk selalu berterimakasih terhadap diri sendiri yang telah berani mencoba dan menjalani semuanya tanpa beban. Meski tentunya dengan tantangan dan keterbatasan, Rina yakin, bahwa diri ini pelangi.[]
_______________
*Vika Alfiyatul Muna adalah gadis kelahiran 03 Januari 2007 di Kuningan, Jawa Barat. Saat ini dia masih menimba ilmu di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy sambil berkuliah di Ma’had Aly Kebon Jambu.





