Literasi Digital: Aplikasi Turath sebagai Penunjang Pengajian Santri Berbasis Teknologi Digital

Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang mengajarkan nilai- nilai keagamaan melalui kitab-kitab klasik. Karya tulis para ulama salaf maupun khalaf tersebut hingga kini masih dijadikan rujukan utama di berbagai pesantren di Indonesia, khususnya pesantren salaf. Kitab klasik yang populer disebut kitab kuning merupakan sebutan bagi kitab berwarna kuning dengan teks Arab tanpa harakat maupun terjemahan. Untuk membacanya, santri harus menguasai ilmu alat atau ilmu gramatikal arab seperti nahwu dan sharaf (Izmi, 2023).

Kitab Kuning memuat beberapa ilmu keislaman seperti tafsir, hadis, fikih, nahwu, serta sharaf. Dalam proses pembelajarannya, dikenal setidaknya dua sistem utama, yaitu bandongan dan sorogan. Bandongan adalah sebuah metode penjelasan isi kitab, dimana santri berkumpul mengelilingi kiai atau ustadz sebagai guru yang menjelaskannya. Adapun metode sorogan, santri akan menyetorkan bacaan kitabnya secara individual kepada kiai atau ustadz, untuk dikoreksi secara langsung. Kelompok pengajian sorogan biasanya tidak sebanyak saat pengajian bandongan (Syaiful, dkk., 2022).

Selain kedua sistem tersebut, terdapat pula metode musyawarah, yang di lingkungan pesantren dikenal sebagai bahtsul masa’il. Bahtsul masa’il merupakan forum dimana para santri membahas persoalan-persoalan kontemporer yang aktual dengan merujuk pada kitab kuning sebagai sumber utamanya. Dalam forum ini santri dituntut untuk mampu mencari referensi dan dalil yang relevan dengan isu yang dibahas. Mengingat kitab kuning bersifat konvensional, dengan pembahasan serta contoh-contoh kasus yang disesuaikan dengan konteks masa lalu, tentu beberapa telah usang dan bertolak belakang dengan isu zaman sekarang. Maka perlu adanya relevansi antara isi kitab kuning tersebut dengan isu yang terjadi saat ini, melalui metode seperti qiyas dan ijma’ ulama.

Seiring dengan kemajuan zaman, teknologi telah menjadi bagian penting dari kehidupan manusia. Banyak orang kini cenderung menginginkan segala sesuatu dilakukan secara praktis dan efisien, untuk menghemat waktu dan tenaga. Pesatnya perkembangan teknologi, menjadikan ilmu pengetahuan semakin mudah diakses

(Safitri, dkk., 2023). Dalam konteks pencarian referensi kitab kuning, proses manual seperti membuka banyak kitab satu persatu tentu memakan waktu cukup lama.

Ditambah lagi, saat ini pembelajaran kitab secara konvensional mengalami tantangan di era digital. Ketersediaan kitab fisik yang terbatas, dan menurunnya minat baca santri terhadap kitab kuning menjadi permasalahan yang nyata. Santri lebih sering berinteraksi dengan media digital dibandingkan teks klasik (Utomo, dkk., 2025). Karena demikian, dibutuhkan sebuah inovasi yang tetap mempertahankan nilai-nilai keilmuan kitab kuning, namun dikolaborasikan dengan media digital.

Peran Aplikasi Turath dalam Meningkatkan Pemahaman Santri

Perkembangan teknologi digital saat ini berlangsung sangat pesat. Hampir seluruh sektor kehidupan, mulai dari pertanian, perkantoran, hingga pendidikan telah memanfaatkan peluang ini untuk memudahkan manusia dalam menjalani aktivitas sehari-harinya. Menurut laporan Green Network, berbagai negara bahkan menggunakan drone sebagai alat bantu dalam sektor pertanian. Hal ini bisa menekan biaya operasional dan meningkatkan efisiensi tenaga dalam proses penyiraman dan pemupukan (Sartika, 2024).

Begitu pula dalam sektor pendidikan, banyak perpustakaan kini menyediakan katalog digital yang memungkinkan pembaca mencari buku melalui situs web. Pembaca tinggal mencari judul yang ingin dibacanya melalui website tersebut. Hal ini tentu lebih praktis dibandingkan harus mencari satu persatu buku di rak secara manual. Tidak hanya buku umum, kitab-kitab klasik pun banyak tersedia dalam format digital seperti e-book/PDF. Selain berguna untuk memudahkan pencarian kitab, digitalisasi buku/kitab juga dapat menjaga khazanah keilmuan yang terkandung dalam kitab, karena bisa saja kitab fisik akan lapuk dimakan zaman (Saini, 2025).

Di era digital, karya klasik para ulama kini didukung oleh kemajuan teknologi. Beberapa aplikasi seperti Maktabah Syamilah, Shamela, Al-Maktabah Al-Waqfiyah, serta Turath merupakan aplikasi yang memuat kitab-kitab turats dalam bentuk digital (Pramono, 2025). Aplikasi-aplikasi tersebut menggunakan fitur pencarian yang memudahkan pengguna menemuykan referensi atau dalil berdasarkan kata kunci tertentu. Nantinya akan muncul pembahasan terkait kata kunci yang dicantumkan dari kitab-kitab yang berbeda. Dari berbagai aplikasi yang memuat kitab turats tersebut, Turath dinilai sebagai salah satu yang paling mudah diakses. Selain memudahkan pencarian teks kitab dengan hanya memasukkan kata kunci atau kitab yang ingin

dibaca, Turath juga menyediakan versi web, jadi untuk mengaksesnya, pengguna tidak perlu mengunduh aplikasi terlebih dahulu. Keunggulan yang dimiliki oleh aplikasi ini juga di antaranya yaitu; memiliki menu kitab yang ingin dibaca, bahts atau menu pencarian lafadz pembahasan, muallifun atau menu nama-nama penulis kitab, dan ada juga aqsam atau menu kategori ilmu apa yang ingin dipelajari (Ahmad, 2025).

Hadirnya aplikasi Turath ini tentu memudahkan santri yang ingin membaca kitab kuning namun tidak memiliki kitab fisiknya. Selain itu, saat akan mengikuti forum bahtsul masa’il misalnya, yang menuntut santri untuk mencari sebanyak-banyaknya dalil terkait permasalahan yang akan dibahas, aplikasi ini memudahkan santri mencari dalil dari berbagai kitab hanya dengan memasukkan kata kunci yang diperlukan. Santri hanya perlu mencari pembahasan yang terkait dari berbagai sumber, kemudian tinggal menyalinnya dan menjadikannya satu file. Dibandingkan zaman dulu, yang mana santri harus membawa kitabnya secara langsung atau menyalinnya di kertas secara manual.

Bijak dalam Memanfaatkan Teknologi

Selain memiliki fitur pencarian yang memudahkan santri untuk mencari pembahasan yang terkait, Turath juga praktis digunakan. Dimana, kita bisa mengaksesnya kapan dan dimana saja, tanpa perlu membawa kitab fisik. Namun, dari semua keunggulan tersebut, tentu kitab berbasis aplikasi ini memiliki kekurangan. Salah satu diantaranya adalah rentan terjadinya pembajakan teks kitab itu sendiri. Tidak sedikit ditemukan teks yang keliru sehingga dapat mengubah makna dan pembahasan dalam isi kitab.

Penting bagi santri yang memanfaatkan kitab berbasis digital ini untuk tidak mencerna secara mentah-mentah kitab yang dibaca. Perlu adanya proses cross-check atau verifikasi yang mendalam, agar tidak terjadi yang namanya kesalah pahaman dalam membaca teks kitab. Literasi digital bukan berarti santri hanya dituntut untuk bisa menggunakan teknologi dan membaca darinya. Lebih dari itu, dalam penggunaan teknologi digital, santri harus bisa memilah dan memilih berbagai informasi yang diperoleh. Tujuannya, supaya data yang diperoleh dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya dan terhindar dari informasi palsu (Primajati, dkk., 2024).

Kesimpulan

Perkembangan teknologi yang terjadi saat ini telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk juga dalam pondok pesantren. Kitab kuning karya ulama zaman dulu, yang selama iniu menjadi rujukan utama di berbagai pesantren, saat ini dapat dengan mudah diakses melalui berbagai aplikasi digital, diantaranya aplikasi Turath. Aplikasi ini membantu santri dalam membaca kitab secara praktis dan efisien, kapan dan dimanapun tanpa harus membaca kitab fisiknya.

Namun, meski aplikasi ini membantu santri dalam membaca kitab, perlu juga adanya sikap kritis dan kewaspadaan terhadap kitab yang dibaca. Karena tidak sedikit lafadz yang ditulis keliru sehingga dapat mengubah maknanya. Literasi digital menjadi kunci penting agar santri dapat lebih bijak menggunakan teknologi tanpa menghilangkan tradisi keilmuan pesantren melalui kitab turats yang diwariskan oleh para ulama.

Dengan adanya aplikasi Turath ini, diharapkan santri tetap menjaga budaya pesantren namun tidak tertinggal oleh derasnya arus digitalisasi. Tidak hanya itu, santri juga harus dapat meng-kontekstualisasikan isi kitab kuning agar dapat relevan dengan perkembangan zaman yang begitu pesat ini.

Oleh: Muhammad Farhan Jiddan~Semester 8B

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top