CAHAYA KECIL DARI KAKI GUNUNG

Di sebuah rumah kecil di kaki gunung, tinggal seorang anak bernama Irwan Perkasa Alamsyah. Rumah itu sempit, berdinding papan tipis yang bila tertiup angin malam akan bergetar halus seperti sedang berbisik. Namun bagi Irwan, rumah itu selalu terasa hangat. Setiap pagi ia dibangunkan oleh suara lembut ibunya, sementara dari dapur terdengar dentingan sendok mengenai panci. Ayahnya akan menyusul, biasanya sambil menyisipkan tangan ke rambut Irwan dan berkata, “Sekolah itu jalanmu keluar dari gelap, Wan.”

Kalimat ayahnya itu selalu melekat dalam hati Irwan, seperti lilin kecil yang tak pernah padam.

Setiap hari, Irwan berjalan melewati pasar yang becek sebelum naik angkot menuju sekolah. Jalan becek itu sering membuat celananya kotor, namun ia sudah terbiasa. Yang kadang membuat hatinya kecil adalah saat melihat teman-temannya pergi ke sekolah dengan tas baru atau sepatu bagus, sedangkan ia hanya membawa tas bekas pemberian guru dan sepatu yang solnya hampir terlepas.

Irwan yang pemalu, membuatnya selalu menunduk ketika berjalan agar tak ada yang memperhatikan keadaan dirinya. Tapi setiap kali rasa itu muncul, ia selalu teringat ucapan ibunya, “Yang penting itu isinya, bukan bentuknya.”Kata-kata itu seperti memeluknya. Perlahan, rasa malu itu hilang.

Irwan sangat menyukai angka. Baginya, angka adalah kawan yang jujur, lalu punya jawaban pasti dan tidak pernah berkhianat. Gurunya sering memuji kemampuan Irwan dalam matematika. Nilainya hampir selalu sempurna. Tetapi Irwan tetap merasa dirinya hanya anak kampung yang hidup sederhana. Ia sulit membayangkan bisa menjadi seseorang yang hebat.

Hingga suatu hari, ia melihat poster olimpiade matematika tingkat kota yang ditempel di papan pengumuman sekolah. Hurufnya besar dan berwarna cerah. Teman-temannya langsung tertawa ketika Irwan berdiri lama di depan poster itu. “Wan, itu buat anak pintar kota, bukan buat kita,” ejek mereka. Irwan diam saja, tapi di dalam hatinya ada suara kecil yang berkata, “Coba.” Dan suara itu begitu kuat.

Setiap malam ia belajar di meja kecil dekat jendela. Lampunya redup dan sering kedap-kedip, tetapi Irwan tetap melanjutkan membaca buku latihan yang diberikan gurunya. Kadang angin malam masuk lewat celah dinding, membuatnya menggigil, namun ia tak berhenti. Ia ingin mencoba, paling tidak agar ia tahu seperti apa rasanya berjuang.

Hari lomba akhirnya tiba. Tangan Irwan dingin dan sedikit bergetar. Ruangan tempat lomba besar dan terang, dengan dinding yang memantulkan suara langkah para peserta. Anak-anak lain memakai seragam rapi, sepatu mengkilap, dan wangi-wangi. Irwan menghela napas panjang. Ia teringat perjalanan panjang dari rumah kecil di kaki gunung, “Kalau sudah di sini, jangan mundur,” gumamnya pada diri sendiri.

Dan ternyata, siapa sangka jika Irwan menang seagai juara dua. Ketika namanya dipanggil, ia begitu kaget hingga hampir lupa cara berjalan menuju podium. Dunia seolah berputar pelan. Namun yang paling membuatnya ingin menangis bukanlah piala itu, melainkan wajah ayah dan ibunya ketika ia pulang. Wajah lelah, namun matanya berbinar seperti dua bintang yang menyala paling terang di balik dinding rumah kecil mereka.

Dari kaki gunung yang sederhana, sebuah cahaya kecil akhirnya menemukan jalannya.

Alzhani Amanda Putri adalah perempuan yang lahir pada tanggal 03 Agustus 2006. Ia tinggal di Baning Kota, Kec. Sintang, Kab. Sintang, Prov. Kalimantan Barat, Indonesia.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top