POHON KECOMBRANG UNTUK KAKAK

Senyum matahari pagi menembus jendela kamar kakak beradik pada pagi hari itu. Menyorot wajah dan menghangatkan tubuh mereka yang masih berbalut selimut. Di luar kamar, suara lembut  ibu memanggil, membangunkan mereka yang masih terlelap. Suaranya yang nyaring mampu menembus kamar masing-masing kedua kakak beradik itu.

“Kakak, Adek. Bangun, yuk, sudah pagi,” Saut ibu, yang memanggil dari arah dapur sana. Masih sibuk dengan euforia di dapur yang seakan-akan sudah menjadi teman akrab baginya. Aroma harum masakan mulai tercium. Mampu membangunkan semangat mereka pagi ini.

Sejatinya, dua bersaudara itu sering sekali bertengkar. Semua tetangga terbiasa menyaksikan mereka yang hampir tiap hari bertikai. Kakanya itu bernama Clara, dan adiknya bernama Rayan. Dibanding kakaknya, adiknyalah yang sering kali jail dan menggangu kakanya sampai menangis. Sebab Clara, merupakan sosok kakak yang sabar dan menyayangi adiknya walaupun sering menangis karena sering dijaili adik nya.

Akan tetapi, Rayan sendiri sebetulnya sangat menyayangi kakaknya. Hanya saja mereka gengsi menyatakan bahwa mereka saling menyayangi  Bahkan sebagai saudara mereka pun cukup akrab. Setiap libur sekolah, mereka selalu pergi bersama dengan ibu dan ayahnya, baik ke sawah maupun ke kebun.

Kebetulan pagi ini ibu dan ayahnya mengajak mereka pergi ke sawah. Rayan yang tak sabar ingin segera berenang-renang di sungai dekat sawah sambil melihat pemandangan hijau sejauh mata memandang, segera membangunkan kakaknya.

“Kaaak… ayok bangun kita cari ikaaan,” Rayan berteriak persis di telinga Clara yang masih tertidur. Jahil sekali memang. Sampai suaranya yang melengking menusuk gendang telinga Clara. Membuat dada Clara berdebar saking kagetnya sehingga Clara malas untuk bangun karena kesal. Tapi Rayan tidak putus asa membangunkan kakaknya itu. Laki-laki muda itu menarik-narik selimut dan menggoyangkan tubuh kakanya itu. Sampai akhirnya, karena mengkal, kakanya itu bangun dari tempat tidurnya, “Iya, aku bangun nih!” sahutnya dengan muka masam. 

Keluarga kecil itu pun berjalan-jalan ria di bentangan sawah pada hari libur yang indah.

Di luar, suara pohon bambu terdengar seperto saling bersapa karena angin yang  berhembus, suara air mengalir yang menenangkan, juga suara burung yang saling bersahutan.

Ayah dan ibu sibuk menggarap sawah. Sedangkan kakak-beradik itu asyik bermain di aliran air tepi sawah mencari ikan kecil dan belut yang bersembunyi di balik lumpur.

“ Lihat ini, Kak!” seru Rayan yang memegang katak dengan wajah tersenyum jahil.

Clara melihatnya dengan geram, “Awas ya!” ancamnya, “Turunin gak!” 

Namun, lantaran Rayan yang semakin menantang Clara dengan senyumannya yang menyebalkan, membuat Clara lari dari adeknya yang jahil itu. Melihat itu, Rayan justru semakin senang hingga ia mengejar Clara sambil tertawa-tawa puas melihat kakanya itu ketakutan.

Melihat si sulung ketakutan oleh ulah si bungsu, Ayah kemudian menegur, “Rayan!”

Hanya dengan memanggil nama, Rayan lamgsung berhenti mengejar kakaknya. Karena Rayan hanya takut dan mendengarkan ayahnya saja.

Matahari yang tidak lagi hangat, angin yang mulai melambat dan burung-burung yang sudah tidak terlihat, membuat keringat semakin membasah. Dan ketika tubuh mulai terasa lelah, mereka pun pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Clara iseng-iseng mencoba memasak ikan hasil tangkapan tadi.

Siapa sangka jika sedari tadi, Rayan memperhatikannya hingga ia menjahilinya ketika ia lengah, “Darrr!!!.”

Sontak saja Clara seperti kena serangan jantung. Untuk refleksnya tidak sampai mengenai wajan yang bisa saja membuat ikan dan minyak berhamburan.

“Kamu ini lagi apa sih, Dek?” tanya Clara kesal, “Bisa gak, sih sekali aja jangan ganggu? Capek tau!” hardiknya.

Anehnya, Rayan langsung nyengir dan mundur perlahan dengan wajah yang sangat menjengkelkan. Biasanya ia melanjutkan aksi nakalnya. Mungkin melihat kakaknya benar-benar capek, Rayan akhirnya berhenti.

“Mau ikannya, Kak”. Jawab Rayan.

Clara yang tadi sudah ingin meledak, menarik nafas begitu adiknya menghentikan kejahilannya, “Iya nanti kita makan bareng, yaaa.”

Kakak beradik itu kemudian makan bersama di belakang rumah sambil ditemani sapaan angis sore yang lembut menampar pipi mereka. Gemercik air mancur yang bermelodi serta ikan-ikan yang menari-nari, menjadi saksi kebersamaan mereka berdua pada sore itu. Menikmati mereka yang sedang akur-akurnya.

Namun pemandangan itu tidak berlangsung lama. Suatu hari Clara diam- diam memakai sepeda adiknya untuk berkeliling di sekitar halaman rumah. Tiba-tiba, Rayan yang melihat itu langsung datang menghampiri kakanya dan tanpa fikir panjang ia memukul kakaknya.

“Bruk, bruk!!!” Suara pukulan itu terdengar cukup keras. Mewakili rayan yang kesal karena sepeda miliknya yang dipakai tanpa sepenggetahuannya. Meskipun itu kakanya, rupanya ia tak mau jika ada orang yang memakai sepedanya.

Dipukul dengan keras seperti itu tentu saja membuat Clara kesakitan. Anak sulung yang malang itu pun pergi dengan tangisan tersedu-sedu. Pulang menuju rumah.

Setelah kejadian itu mereka tidak saling sapa. Seperti perang dingin yang mencekam, perseteruan mereka sampai membuat Rayan tidak lagi berani menggangu kakaknya.

Hingga suatu hari, Clara jatuh sakit. Tubuhnya menggigil. Suhunya sangat panas dan mukanya pucat pasi. Demam tinggi itu menguras energi Clara sampai-sampai ia hanya bisa terkapar di atas tempat tidur.

Melihat kakaknya sakit, tiba-tiba membuat Rayan merasa sedih.

“Ibu, Kakak sakit apa?.” Tanya Rayan kepada ibunya dengan raut wajah yang sedih.

“Ayo cari obat buat Kakak!” serunya, dengan mata yang kini telah berkaca-kaca.

Ibunya hanya tersenyum sambil mengelus kepala putra bunsgunya.

“Adek, tolong ambilkan batang pohon kecombrang di belakang, ya,” pinta ibu yang rupanya membuat Rayan bingung. Padahal barusan dia meminta obat, namun ibu malah menyuruhnya mengambil batang pohon kecombrang.

“Memang batang pohon kecombrang buat apa, Bu? Tanya Rayan, mengungkapkan rasa penasaran.

“Buat Kakak. Itu obat buat nurunin panas,” jawab ibu.

Rayan pun mengangguk dan langsung pergi ke halaman belakang.

Ibu kemudian merebus batang pohon kecombrang setelah mencucinya. Kata ibu, air rebusan batang pohon itu akan digunakan untuk mandi Clara.

Setelah air rebusan itu sudah ibu siapkan di dalam kamar mandi, ia membantu Clara untuk bangun dari berbaringnya.

“Ayo, Nak, mandi dulu, yuk,” ajak ibu dengan handuk Clara yang sudah dibawakannya. ini adekmu sudah memetik batang pohon kecombarang buat bantu menurunkan demam kamu.”

“Adek, Bu?,” tanya Clara seolah tak percaya jika adiknya itu mau disuruh mengambil sesuatu untuk kebutuhannya.

“Iya nak,” Jawab ibu dengan seutas senyuman.

Mendengar jawaban ibunya, tiba-tiba saja membuat Clara menangis terharu. Adeknya, walaupun jahil dan menyebalkan, diam-diam perhatian kepadanya.

Air rebusan batang pohon kecombrang yang hangat sementara meredakan perasaan haru Clara. ia pun seakan menghayati mandinya kali ini. Hingga tanpa sadar ia sudah hampir setengah jam di kamar mandi.

Selesai mandi, Clara merasakan sensasi di tubuhnya. Yang tadinya ia demam dan lemas, sekarang sudah mulai turun dan energinya mulai membaik.

Saat ia berbaring kembali, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Rayan mengintip dibalik pintu itu. Merasa malu ingin masuk ke kamar kakaknya.

“Masuk aja dek,” ujar Clara lembut.

Dengan gugup, Rayan membuka lebar pintu kamar kakaknya, “Hehe, iya, Kak.”

Ia berjalan mendekat dan duduk di bibir ranjang kasur, “Kakak gimana keadaannya?” tanya Rayan sambil memeriksa tangan kakaknya. Sudah mendingan. “Sekarang udah enakan belum?” tanyanya lagi.

Clara tersenyum lembut, “Alhamdulillah. Berkat rebusan pohon kecombrang yang kamu ambil itu, Dek. Makasih, ya.”

“Iya, Kak. Sama-sama. Cepet sembuh, ya, Kak. Biar kita bisa main lagi. Maafin Adek, ya, kemarin mukul Kakak,” ungkap Rayan tulus.

Clara menggenggam erat tangan Rayan. “Iya gak papa, Dek. Maafin kakak juga, ya, gak izin dulu waktu pakai sepedamu.”

Rayan membalas genggaman kakaknya. Mereka saling tersenyum lalu berpelukan dengan eratnya.

Hari demi hari pun berlalu dan kedua bersaudara itu mulai tumbuh dewasa. Mereka harus berpisah utuk mengejar cita-citanya masing-masing. Di usia matang dengan hari libur yang tak sama, membuat mereka hanya bisa bertemu pada hari raya atau ketika ada acara penting keluarga. Itu pun hanya satu atau dua hari. Momen-momen pertengkaran dan kebersaaan saat kecil, sekarang menjadi momen indah yang mereka kenang. Momen yang menjadikan mereka ingin segera bertemu kembali.[]

_______________

*Alin nilna Muna adalah Mahasantri Semester 6 Ma’had Aly Kebon Jambu.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top